BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
belakang
Kristal adalah suatu padatan yang
atom, molekul, atau ion penyusunnya terkemas secara teratur dan polanya
berulang melebar secara tiga dimensi.Secara umum, zat cair membentuk kristal
ketika mengalami proses pemadatan. Pada kondisi ideal, hasilnya bisa berupa
kristal tunggal, yang semua atom-atom dalam padatannya "terpasang"
pada kisi atau struktur kristal yang sama, tapi, secara umum, kebanyakan
kristal terbentuk secara simultan sehingga menghasilkan padatan polikristalin.
Misalnya, kebanyakan logam yang kita temui sehari-hari merupakan polikristal.
Struktur kristal mana yang akan
terbentuk dari suatu cairan tergantung pada kimia cairannya sendiri, kondisi
ketika terjadi pemadatan, dan tekanan ambien. Proses terbentuknya struktur
kristalin dikenal sebagai kristalisasi.
Meski proses pendinginan sering
menghasilkan bahan kristalin, dalam keadaan tertentu cairannya bisa membeku
dalam bentuk non-kristalin. Dalam banyak kasus, ini terjadi karena pendinginan
yang terlalu cepat sehingga atom-atomnya tidak dapat mencapai lokasi
kisinya.Suatu bahan non-kristalin biasa disebut bahan amorf atau seperti
gelas.Terkadang bahan seperti ini juga disebut sebagai padatan amorf, meskipun
ada perbedaan jelas antara padatan dan gelas. Proses pembentukan gelas tidak
melepaskan kalor lebur jenis (Bahasa Inggris: latent heat of fusion). Karena
alasan ini banyak ilmuwan yang menganggap bahan gelas sebagai cairan, bukan
padatan.Topik ini kontroversial, silakan lihat gelas untuk pembahasan lebih
lanjut.Meskipun istilah "kristal" memiliki makna yang sudah
ditentukan dalam ilmu material dan fisika zat padat, dalam kehidupan
sehari-hari "kristal" merujuk pada benda padat yang menunjukkan
bentuk geometri tertentu, dan kerap kali sedap di mata. Berbagai bentuk kristal
tersebut dapat ditemukan di alam. Bentuk-bentuk kristal ini bergantung pada
jenis ikatan molekuler antara atom-atom untuk menentukan strukturnya, dan juga
keadaan terciptanya kristal tersebut. Bunga salju, intan, dan garam dapur
adalah contoh-contoh kristal.
Beberapa material kristalin
mungkin menunjukkan sifat-sifat elektrik khas, seperti efek feroelektrik atau
efek piezoelektrik. Kelakuan cahaya dalam kristal dijelaskan dalam optika
kristal. Dalam struktur dielektrik periodik serangkaian sifat-sifat optis unik
dapat ditemukan seperti yang dijelaskan dalam kristal fotonik.
B. Maksud
dan tujuan
Adapun maksud dan tujuan diadakan
praktikum Kristalografi dan Mineralogi adalah sebagai berikut :
1.
Mempelajari dan menentukan sistem
Kristalografi dan Mineralogi dari bermacam-macam bentuk Kristal baik bentuk
dasar maupun bentuk kombinasi dan letak posisi dan panjang sumbu Kristalografi.
2.
Mempelajari dan menentukan kelas simetri dari
bermacam-macam bentuk Kristal berdasarkan jumlah unsur-unsur simetri yang
dimilikinya.
3. Mencari
hubungan dalam proyeksi stereogram.
4.
Mengetahui sfat dari mineral itu sendiri.
5.
Menentukan hubungan antara Kristal dan
mineral.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 KRISTLOGRAFI
kristalografi adalah ilmu yang mempelajari tentang sifat-sifat
geometri dan kristal terutama perkembangan, pertumbuhan,kenampakan ,bentuk luar
,struktur dalam dan sifat-sifat fisis lainya.
- sifat geometri ,memberikan pengertian letak,panjang dan jumlah sumbu kristal yag menyusun suatu bentuk kristal tertentu dan jumlah serta bentuk bidang luar yang membatasiya.
- perkembangan dan pertmbuhan kenampakan bentuk luar , bahwa disampig mempelajari bentuk-bentuk dasar yaitu suatu bidang pada situasi permukaan , juga mempelajri kombinasi ataraa satubetuk kristal dengan bentuk kristal lainya yang masih dalam suatu sistem kristalografi , ataupun dalm arti kembaran dari kristal yang terbentuk kemudian.
- struktur dalam, membicarakan susunan dan jumlah sumbuh-sumbuh kristal juga menghitung parameter dan parameter rasio.
- sifat fisis kristal , sangat tergantung pada struktur ( susunan atom-atomnya) , besar kecilnya kristal tidak mempengaruhi , yang penting bentuk yang dibatasi oleh bidang kristal, sehinga akan dikenal dua zat zaitu kristalin dan non kristalin.
- sifat geometri ,memberikan pengertian letak,panjang dan jumlah sumbu kristal yag menyusun suatu bentuk kristal tertentu dan jumlah serta bentuk bidang luar yang membatasiya.
- perkembangan dan pertmbuhan kenampakan bentuk luar , bahwa disampig mempelajari bentuk-bentuk dasar yaitu suatu bidang pada situasi permukaan , juga mempelajri kombinasi ataraa satubetuk kristal dengan bentuk kristal lainya yang masih dalam suatu sistem kristalografi , ataupun dalm arti kembaran dari kristal yang terbentuk kemudian.
- struktur dalam, membicarakan susunan dan jumlah sumbuh-sumbuh kristal juga menghitung parameter dan parameter rasio.
- sifat fisis kristal , sangat tergantung pada struktur ( susunan atom-atomnya) , besar kecilnya kristal tidak mempengaruhi , yang penting bentuk yang dibatasi oleh bidang kristal, sehinga akan dikenal dua zat zaitu kristalin dan non kristalin.
2.1.1 MATERI DARI KE-7 SISTEM KRISTAL
Sistem kristal di kelompokkan
menjadi 7 sistem, antara lain:
- Isometrik
![]() |
Ciri-cirinya sebagai berikut:
- jumlah sumbu ada 3
- Axial ratio a=b=c
- sudut alfa=beta=gamma=90
Beberapa kelas kristalnya yaitu:
- tetoidal
- gyroidal
- diploida
- hextetrahedral
- hexoctahedral
Contoh mineralnya antara lain: emas, pirit,
galena, halite, fluorite.
2. Tetragonal
![]() |
Ciri-cirinya sebagai berikut:
- jumlah sumbu ada 3
- Axial ratio a=b (tidak = c)
- sudut alfa=beta=gamma=90
Beberapa kelas kristalnya yaitu:
- piramid
- Bipiramid
- Ditetragonal Piramid
- Ditetragonal Bipiramid
- Bisfenoid
- Trapezohedral
- Skalenohedral
Contoh mineralnya antara lain: rutile,
autunite, pyrolusite, leusite, scapolite.
3. Hexagonal
![]() |
Ciri-cirinya sebagai berikut:
- Jumlah sumbu ada 4
- a=b=d (tidak = c)
- sudut alfa=beta=90 dan gama=120
Beberapa kelas kristalnya yaitu:
- Hexagonal Piramid
- Hexagonal Bipiramid
- Dihexagonal piramid
- Dihexagonal Bipiramid
- Trigonal Bipiramid
- Ditrigonal Bipiramid
- Hexagonal Trapezohedral
Contoh mineralnya antara lain: dolomite,
apatite.
4. Trigonal
![]() |
Ciri-cirinya sebagai berikut:
- Jumlah sumbu ada 4
- a=b=d (tidak = c)
- sudut alfa=beta=90 dan gama=120
Beberapa kelas kristalnya yaitu:
- Trigonal Piramid
- Trigonal Trapezohedral
- Ditrigonal Piramid
- Ditrigonal Skalenohedral
- Rombohedral
Contoh mineralnya antara lain: tourmaline,
cinnabar.

Ciri-cirinya sebagai berikut:
- Jumlah sumbu ada 3
- a tidak sama dengan b tidak sama dengan c
- sudut alfa=beta=gama=90
Beberapa kelas kristalnya yaitu:
- Bisfenoid
- Piramid
- Bipiramid
Contoh mineralnya antara lain: stibnite,
chrysoberyl, aragonite, witherite.
6. Monoklin
![]() |
Ciri-cirinya sebagai berikut:
- Jumlah sumbu ada 3
- a tidak sama dengan b tidak sama dengan c
- sudut alfa=beta=90 tidak = gama
Beberapa kelas kristalnya yaitu:
- Sfenoid
- Doma
- Prisma
Contoh mineralnya antara lain: azurite,
mlachite, colemanit, gypsum, epidot.
7. Triklin
![]() |
Ciri-cirinya sebagai berikut:
- Jumlah sumbu ada 3
- a tidak sama dengan b tidak sama dengan c
- sudut “alfa” tidak sama dengan “beta”
tidak sama dengan “gama” tidak sama dengan 90
Beberapa kelas kristalnya yaitu:
- Pediol
- Pinakoidal
Contoh mineralnya antara lain: albite,
anortite, labradorite, kaolinite, microcline, anorthoclase
2.1.2
GAMBAR DAN MODEL PEMBAGIAN KRISTAL
1. Sistem
Isometrik
Sistem ini juga disebut sistem kristal regular, atau dikenal pula dengan sistem
kristal kubus atau kubik. Jumlah sumbu kristalnya ada 3 dan saling tegak
lurus satu dengan yang lainnya.
Dengan perbandingan panjang yang sama untuk masing-masing sumbunya sehingga
sumbu-sumbu tersebut sering diberi nama a1, a2, a3 dan
juga memiliki sudut kristalografi α = β = γ = 90˚. Hal ini menunjukkan bahwa
system ini semua sudut kristalnya ( α , β dan γ ) tegak lurus satu sama lain
(90˚).
Sistem
isometrik dibagi menjadi 5 Kelas, yaitu :
· Tetaoidal
§ Kelas : ke-28
§ Simetri : 2 3
§ Elemen Simetri :
terdapat 4 sumbu putar tiga dan tiga sumbu putar dua
· Gyroida
§ Kelas : ke-30
§ Simetri : 4 3 2
§ Elemen Simetri :
terdapat 3 sumbu putar empat, 4 sumbu putar tiga, dan 6 sumbu putar dua
· Diploida
§ Kelas : ke-29
§ Simetri : 2/m 3bar
§ Elemen Simetri : ada
4 sumbu putar tiga, 3 sumbu putardua, 3 bidang kaca dan satu pusat
· Hextetrahedral
§ Kelas : ke-31
§ Simetri : 4bar
3 m
§ Elemen Simetri : ada
4 sumbu putar tiga, 3 sumbu putaempat, dan 6 bidang kaca.
· Hexoctahedral
§ Kelas : ke-32
§ Simetri : 4/m 3bar
2/m
§ Elemen
Simetri : merupakan klas yang paling simetri untuk bidang tiga dimensi dengan 4
sumbu putar tiga, 3
sumbu putar dua, dan sumbu putar dua. Dengan 9 bidang
utama dan 1 pusat
sumbu putar dua, dan sumbu putar dua. Dengan 9 bidang
utama dan 1 pusat
Beberapa
contoh mineral dengan system kristal Isometrik ini adalah gold, pyrite,
galena, halite, Fluorite (Pellant, chris: 1992).
2. Sistem
Tetragonal
Sistem
tetragonal sama dengan system Isometrik, karena pada system kristal ini
mempunyai 3 sumbu kristal yang masing-masing saling tegak lurus. Sumbu a dan b
mempunyai satuan panjang sama, sehingga penamaan sumbu-sumbu tersebut sering menjadi
sumbu a2sebagai sumbu b dan a1 sebagai sumbu a.
Sedangkan sumbu c berlainan, dapat lebih panjang atau lebih pendek. Tapi pada
umumnya lebih panjang. System tetragonal juga memiliki sudut kristalografi α =
β = γ = 90˚.
Sistem
tetragonal dibagi menjadi 7 kelas:
·
Piramid
§ Kelas : ke-21
§ Simetri : 4
§ Elemen
Simetri : terdapat 1 sumbu putar empat
·
Bipiramid
§ Kelas : ke-23
§ Simetri : 4/m
§ Elemen
Simetri : terdapat 1 sumbu putar empat dan 1 bidang simetri
·
Bisfenoid
§ Kelas : ke-22
§ Simetri : 4bar
§ Elemen
Simetri : terdapat 1 sumbu putar empat
·
Trapezohedral
§ Kelas : ke-26
§ Simetri : 4 2
2
§ Elemen Simetri : terdapat 1 sumbu putar
empat, 2 sumbu putar dua, semuanya berpotongan tegak lurus ke sumbu putar lain.
·
Ditetragonal Piramid
§ Kelas : ke-25
§ Simetri : 4 m m
§ Elemen
Simetri : terdapat 1 sumbu putar empat dan 4 bidang simetri
·
Skalenohedral
§ Kelas : ke-24
§ Simetri : 4bar
2 m
§ Elemen Simetri : terdapat 1 sumbu putar
empat, 2 sumbu putar dua, dan 2 bidang simetri
·
Ditetragonal Bipiramid
§ Kelas : ke-27
§ Simetri : 4/m 2/m 2/m
§ Elemen
Simetri : terdapat 1 sumbu putar empat, 4 sumbu putar dua, 5 sumbu simetri
Beberapa
contoh mineral dengan sistem kristal Tetragonal ini adalah rutil,
autunite, pyrolusite, Leucite, scapolite (Pellant, Chris: 1992)
3. Sistem
Hexagonal
Sistem
hexagonal ini mempunyai 4 sumbu kristal, dimana sumbu c tegak lurus
terhadap ketiga sumbu lainnya. Sumbu a, b, dan d masing-masing membentuk sudut
120˚ terhadap satu sama lain. Sumbu a, b, dan d memiliki panjang sama.
Sedangkan panjang c berbeda, dapat lebih panjang atau lebih pendek (umumnya
lebih panjang). System hexagonal memiliki sudut kristalografi α = β = 90˚ ; γ =
120˚. Hal ini berarti, pada sistem ini, sudut α dan β saling tegak lurus dan
membentuk sudut 120˚ terhadap sumbu γ.
Sistem
ini dibagi menjadi 7:
·
Hexagonal Piramid
§ Kelas : ke-14
§ Simetri : 6
§ Elemen
Simetri : hanya terdapat 1 sumbu putar enam.
·
Hexagonal Bipramid
§ Kelas : ke-16
§ Simetri : 6/m
§ Elemen
Simetri : terdapat 1 sumbu putar enam, 1 bidang simetri
·
Dihexagonal Piramid
§ Kelas : ke-18
§ Simetri : 6 m m
§ Elemen
Simetri : terdapat 1 sumbu putar enam, 6 bidang simetri
·
Dihexagonal Bipiramid
§ Kelas : ke-20
§ Simetri : 6/m 2/m 2/m
§ Elemen
Simetri : terdapat 1 sumbu putar enam, 6 sumbu putar dua, 7 bidang simetri
masing-masing berpotongan tegak lurus terhadap salah satu sumbu rotasi dan satu
pusat
·
Trigonal Bipiramid
§ Kelas : ke-1
§ Simetri : 6bar
(ekuivalen dengan 6/m)
§ Elemen
Simetri : terdapat 1 sumbu putar enam, 1 bidang simetri
·
Ditrigonal Bipiramid
§ Kelas : ke-17
§ Simetri : 6bar
2m
§ Elemen Simetri
: terdapat 1 sumbu putar enam, 3 sumbuputar dua, dan 4 bidang simetri
·
Hexagonal Trapezohedral
§ Kelas : ke-19
§ Simetri : 6 2 2
§ Elemen
Simetri : terdapat 1 sumbu putar enam, 6 sumbu putar dua
Beberapa
contoh mineral dengan sistem kristal Hexagonal ini adalah quartz,
corundum, hematite, calcite, dolomite, apatite.(Mondadori, Arlondo. 1977).
4. Sistem
Trigonal
Jika kita membaca beberapa
referensi luar, sistem ini mempunyai nama lain yaitu Rhombohedral, selain itu
beberapa ahli memasukkan sistem ini kedalam sistem kristal Hexagonal. Demikian
pula cara penggambarannya juga sama. Perbedaannya, bila pada sistem Trigonal
setelah terbentuk bidang dasar, yang terbentuk segienam, kemudian dibentuk
segitiga dengan menghubungkan dua titik sudut yang melewati satu titik
sudutnya.
System
Trigonal memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a = b = d ≠ c , yang artinya
panjang sumbu a sama dengan sumbu b dan sama dengan sumbu d, tapi tidak sama
dengan sumbu c. Dan juga memiliki sudut kristalografi α = β = 90˚ ; γ = 120˚.
Sistem ini
dibagi menjadi 5 kelas:
·
Trigonal piramid
·
Trigonal Trapezohedral
§ Kelas : ke-12
§ Simetri : 3 2
§ Elemen
Simetri : ada 1 sumbu putar tiga, 3 sumbu putar dua.
·
Ditrigonal Piramid
§ Kelas : ke-11
§ Simetri : 3m
§ Elemen
Simetri : ada 1 sumbu putar tiga dan 3 bidang simetri
·
Ditrigonal Skalenohedral
§ Kelas : ke-13
§ Simetri : 3bar 2/m
§ Elemen
Simetri : ada 1 bidang putar tiga, 3 bidang putar dua, 3 bidang simetri
·
Rombohedral
Beberapa
contoh mineral dengan sistem kristal Trigonal ini adalah tourmaline
dan cinabar (Mondadori, Arlondo. 1977)
5. Sistem
Orthorhombik
Sistem ini disebut juga sistem
Rhombis dan mempunyai 3 sumbu simetri kristal yang saling tegak lurus satu
dengan yang lainnya. Ketiga sumbu tersebut mempunyai panjang yang berbeda.
Pada kondisi sebenarnya, sistem
kristal Orthorhombik memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a ≠ b ≠ c ,
sehingga panjang sumbu-sumbunya tidak ada yang sama panjang atau berbeda satu
sama lain. Dan juga memiliki sudut kristalografi α = β = γ = 90˚. Hal ini
berarti, pada sistem ini, ketiga sudutnya saling tegak lurus (90˚).
Kesimetrisan dari sitem
orthorombik memiliki 3 elemen simetri seperti :
· 3
bidang simetri : bidang-bidang sumbu
· 3
sumbu simetri diagonal : sumbu-sumbu kristalografi pusat simetri
Sistem ini dibagi menjadi 3
kelas:
·
Bisfenoid
§ Kelas : ke-7
§ Simetri : 2 2 2
§ Elemen
Simetri : ada 3 sumbu putar
·
Piramid
§ Kelas : ke-6
§ Simetri : 2 m
§ Elemen
Simetri : ada 1 sumbu putar dua dan 2 bidang
·
Bipiramid
§ Kelas : ke-8
§ Simetri : 2/m 2/m 2/m
§ Elemen
Simetri : ada 3 sumbu putar dua dengan sebuah bidang simetri yang berpotongan
tegak lurus dengan ketiga sumbu dan sebuah pusat.
ketiga sumbu dan
sebuah pusat
Beberapa
contoh mineral denga sistem kristal Orthorhombik ini adalah stibnite,
chrysoberyl, aragonite dan witherite (Pellant, chris. 1992)
6. Sistem
Monoklin
Monoklin
artinya hanya mempunyai satu sumbu yang miring dari tiga sumbu yang
dimilikinya. Sumbu a tegak lurus terhadap sumbu n; n tegak lurus terhadap sumbu
c, tetapi sumbu c tidak tegak lurus terhadap sumbu a. Ketiga sumbu tersebut
mempunyai panjang yang tidak sama, umumnya sumbu c yang paling panjang dan
sumbu b paling pendek. System Monoklin memiliki axial ratio (perbandingan
sumbu) a ≠ b ≠ c dan memiliki sudut kristalografi α = β = 90˚ ≠ γ.
Hal ini berarti, pada ancer ini, sudut α dan β saling tegak lurus (90˚),
sedangkan γ tidak tegak lurus (miring).
Sistem
Monoklin dibagi menjadi 3 kelas:
· Sfenoid
§ Kelas : ke-4
§ Simetri : 2
§ Elemen Simetri : 1
sumbu putar
· Doma
§ Kelas : ke-3
§ Simetri : m
§ Elemen Simetri : 1
bidang simetri
· Prisma
§ Kelas : ke-5
§ Simetri : 2/m
§ Elemen
Simetri : 1 sumbu putar dua dengan sebuahbidang simetri yang berpotongan tegak
lurus
Beberapa
contoh mineral dengan ancer kristal Monoklin ini adalah azurite,
malachite, colemanite, gypsum, dan epidot (Pellant, chris. 1992)
7. Sistem
Triklin
Sistem ini
mempunyai 3 sumbu simetri yang satu dengan yang lainnya tidak saling tegak
lurus. Demikian juga panjang masing-masing sumbu tidak sama.
System kristal Triklin memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a ≠
b ≠ c , yang artinya panjang sumbu-sumbunya tidak ada yang sama panjang atau
berbeda satu sama lain. Dan juga memiliki sudut kristalografi α = β ≠ γ ≠ 90˚.
Hal ini berarti, pada system ini, sudut α, β dan γ tidak saling tegak lurus
satu dengan yang lainnya
Sistem ini
dibagi menjadi 2 kelas:
·
Pedial
§ Kelas : ke-1
§ Simetri : 1
§ Elemen
Simetri : hanya sebuah pusat
·
Pinakoidal
§ Kelas : ke-2
§ Simetri : 1bar
§ Elemen
Simetri : hanya sebuah pusat
Beberapa
contoh mineral dengan ancer kristal Triklin ini adalah albite,
anorthite, labradorite, kaolinite, microcline dan anortoclase (Pellant,
chris. 1992).
2.1.3 HUBUNGAN KRISTALOGRAFI DENGAN PERTAMBANGAN
Kristal adalah suatu benda padat yang
terkemas secara teratur dan polanya (atom atau molekul) berulang (melebar)
secara tigas dimensi. Kristalografi adalahilmu yang mengkaji kristal yang
meliputi pertumbuhan, bangun, sifat fisik dan klasifikasi berdasarkan
bentuknya. Sistem kristal ada 7 dan dibagi menjadi 32
kelas. Yaitu
Sistem Isometrik, Tetragonal,
Hexagonal, Trigonal, Orthorombik, Monoklin dan Triklin.
Dalam
dunia pertambangan kita
harus mengetahui asal
jadi dari pada batuan/bijih yang
akan kita tambang dan juga komposisi mineralnya apa saja, maka pada tahap
eksplorasi kita dapat menemukan apa yang kita cari.
BAB
IV
PENUTUP
4.1. KESIMPULAN
·
Kristalografi adalah ilmu yang mempelajari tentang sifat-sifat
geometri dan kristal terutama perkembangan, pertumbuhan,kenampakan ,bentuk luar
,struktur dalam dan sifat-sifat fisis lainya.
Kristal digolongkan kedalam 7
Sistem Kristal , Antara Lain :
1. Reguler / Isometrik
2. Tetragonal
3. Orthorombik
4. Triklin
5. Monoklin
6. Heksagonal
7. Trigonal
·
Dalam
dunia pertambangan kita
harus mengetahui asal
jadi dari pada batuan/bijih yang
akan kita tambang dan juga komposisi mineralnya apa saja, maka pada tahap
eksplorasi kita dapat menemukan apa yang kita cari.
4.2. Saran
- Untuk Lab. Kristalografi &
Mineralogi , Terutama dalam percobaan bagian Kristal ,
Saya harap alat peraga nya lebih
bagus lagi , dan alat peraga yang “salib sumbu” yang sumbu nya terlepas tolong
diganti .
-Untuk Asisten , Saya harap dalam
setiap 1 kelompok ada 1 asisten yang mendampingi, kalau asisten nya banyak
sibuk kuliah, bisalah tambah asisten tahun depan supaya saat peraktikum bisa
efisien , Terima Kasih.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Mineral (menurut Barry and Masson)
adalah suatu benda padat homogen yang terdapat di alam, terbentuk secara
anorganik, dengan komposisi kimia pada batas batas tertentu dan mempunyai
atom-atom yang tersusun secara teratur.
Di alam mineral dijumpai
bermacam-macam dengan berbagai bentuk yang bervariasi, terkadang hanya terdiri
dari sebuah kristal atau gugusan kristal-kristal dalam rongga-rongga atau celah
batuan, tetapi umumnya mineral dijumpai sebagai kumpulan butiran kristal yang
tumbuh bersama membentuk batuan.
Bentuk kristal mineral
merupakan suatu system tersendiri dimana setiap jenis mineral mempunyai bentuk
kristal sendiri. System ini di kelompokkan menjadi enam yaitu :
1. Isometrik
2. Tetragonal
3. Hexagonal/Trigonal
4. Orthorhombik
5. Monoklin
6. Triklin
2. Tetragonal
3. Hexagonal/Trigonal
4. Orthorhombik
5. Monoklin
6. Triklin
Kristalisasi dapat terjadi
dari larutan, hal ini merupakan hal yang umum yaitu bila larutan telah jenuh,
selain itu juga jika temeratur larutan di turunkan. Benda padat akan meleleh
karena tigginya temperature yang membeku, membentuk kristal-kristal bila
mendingin.
Gas dengan unsur kimia tertentu akan
dapat mengkristal, unsure tersebut misalnya belerang, kristalisasi terjadi dari
larutan peleburan, uap atau gas. Meskipun telah di definisiskan kristalin
tetapi di anggap sebagai mineral, tipe ini di kenal ada dua macam yaitu :
1. Metamic mineral,
dimana asalnya adalah kristalin yang kemudian struktur kristalnya hancur.
Umumnya senyawa dari asm lemah seperti zirkon (ZrSiO4) dan Thorite (ThSiO4).
2. Mineral amorf, yang
terjadi karena pedinginan yang ce[at sehingga tidak terbentuk kristal. Mineral
ini yang paling umum adalah opal, mineral lempung, hydrated iron dan alluminium
oxides.
1.2. Maksud dan Tujuan
1.2.1. Maksud
1.2.1. Maksud
Maksud dari pada praktikum
mineralogi ini adalah untuk dapat memenuhi persyaratan mengikuti ujian akhir
praktikum mineralogi dan dapat mengikuti praktikum-praktikum selanjutnya sesuai
dengan kurikulum yang telah ditentukan pada jurusan Teknik Pertambangan
Institut Teknologi Bandung. Serta untuk mengetahui tata cara dalam melakukan
pendeskripsian kristal.
1.2.2. Tujuan
Dalam kegiatan mempelajari dan melakukan praktikum Mineralogi, kita dituntut untuk dapat -Mengetahui Apa Itu Mineral…
-Mengetahui Sifat Fisik & Kimia Dari Mineral
- Mengetahui Reaksi Bowen Series & Skala Mhos
-Mengetahui Gambar-gambar Mineral Yang Nampak Bentuk Kristalnya Dari ke-7 Sistem Kristal
BAB II
LANDASAN TEORI
LANDASAN TEORI
2.1.Mineralogi
Mineralogi merupakan ilmu bumi yang berfokus pada sifat kimia, struktur kristal, dan fisika (termasuk optik) dari mineral. Studi ini juga mencakup proses pembentukan dan perubahan mineral.
Mineralogi merupakan ilmu bumi yang berfokus pada sifat kimia, struktur kristal, dan fisika (termasuk optik) dari mineral. Studi ini juga mencakup proses pembentukan dan perubahan mineral.
Pada awalnya, mineralogi lebih menitikberatkan pada sistem klasifikasi mineral pembentuk batuan.
International Mineralogical Association merupakan suatu organisasi yang
beranggotakan organisasi-organisasi yang mewakili para ahli mineralogi dari
masing-masing negara. Aktivitasnya mencakup mengelolaan penamaan mineral
(melalui Komisi Mineral Baru dan Nama Mineral), lokasi mineral yang telah
diketahui, dsb. Sampai dengan 2004 telah terdapat lebih dari 4000 spesies mineral yang diakui oleh IMA. Dari
kesemua itu, 150 dapat digolongkan “umum”, 50 lainnya “kadang-kadang”, dan
sisanya “jarang” sampai “sangat jarang”
2.1.1. Mineral
Pengertian Mineral
Sedangkan mineral adalah suatu zat ( fasa ) padat yang terdiri dari unsur atau persenyawaan kimia yang dibentuk secara alamiah oleh proses-proses anorganik, mempunyai sifat-sifat kimia dan fisika tertentu dan mempunyai penempatan atom-atom secara beraturan di dalamnya, atau dikenal sebagai struktur kristal.
Selain itu kata mineral juga mempunyai banyak arti, hal ini tergantung darimana kita meninjaunya. Mineral dalam arti farmasi lain dengan pengertian di bidang geologi. Istilah mineral dalam arti geologi adalah zat atau benda yang terbentuk oleh proses alam, biasanya bersifat padat serta tersusun dari komposisi kimia tertentu dan mempunyai sifat-sifat fisik yang tertentu pula. Mineral terbentuk dari atom-atom serta molekul-molekul dari berbagai unsur kimia, dimana atom-atom tersebut tersusun dalam suatu pola yang teratur. Keteraturan dari rangkaian atom ini akan menjadikan mineral mempunyai sifat dalam yang teratur. Mineral pada umumnya merupakan zat anorganik. ( Murwanto, Helmy, dkk. 1992 )
Maka pengertian yang jelas dari batas mineral oleh beberapa ahli geologi perlu diketahui walaupun dari kenyataannya tidak ada satupun persesuaian umum untuk definisinya.
Definisi mineral menurut beberapa ahli :
L.G. Berry dan B. Mason, 1959
Mineral adalah suatu benda padat homogen yang terdapat di alam terbentuk secara anorganik, mempunyai komposisi kimia pada batas – batas tertentu dan mempunyai atom – atom yang tersusun secara teratur.
D.G.A Whitten dan J.R.V. Brooks, 1972
Mineral adalah suatu bahan padat yang secara structural homogen mempunyai komposisi kimia tertentu, dibentuk oleh proses alam yang anorganik.
A.W.R. Potter dan H. Robinson, 1977
Mineral adalah suatu bahan atau zat yang homogen mempunyai komposisi kimia tertentu atau dalam batas – batas dan mempunyai sifat – sifat tetap, dibentuk dialam dan bukan hasil suatu kehidupan.
Sebagian besar mineral – mineral ini terdapat dalm keadaan padat, akan tetapi dapat juga berada dalam keadaan setengah padat, gas, ataupun cair. Mineral – mineral padat itu biasanya terdapat dalam bentuk – bentuk kristal, yang agak setangkup, dan yang pada banyak sisinya dibatasi oleh bidang – bidang datar. Bidang – bidang geometric ini memberi bangunan yang tersendiri sifatnya pada mineral yang bersangkutan. Minyak bumi misalnya adalah mineral dalam bentuk cair, sedangkan gas bumi adalah mineral dalam bentuk gas. Sebagian dari mineral dapat juga dilihat dalam bentuk amorf, artinya tidak mempunyai susunan dan bangunankristal sendiri. Pengenalan atau dterminasi mineral – mineral dapat didasarkan atas bebagai sifat dari mineral – mineral tersebut.
III.3 Jenis Mineral
Mineral ada yang merupakan unsur bebas dan ada yang merupakan bentuk persenyawaan.
1. Silicates
Menyusun 95 % bagian litosfer dan mantel bumi bagian atas. Komposisi utamanya adalah Silicon ( Si ) dan Oksigen ( O ).
Framework silicates, yang paling berlimpah di alam adalah :
Quartz
Feldspars:
Orthoclase, Kaya akan Kalium ( K )
Plagioclase, Kaya akan Kalsium ( Ca ) dan Natrium ( Na )
Sheet silicates
Micas
Muscovite, kaya akan Alumunium ( Al ) dan berwarna cerah
Biotite, kaya akan Besi ( Fe ) dan berwarna gelap
Chain silicates
Pyroxenes, berantai tunggal
Amphiboles, berantai ganda
Single tetrahedron
Olivine
Oxides
Tersusun dari Oksigen ( O ) dan logam atau ion-ion lain.
Hematite (Fe2O3)
Magnetite (Fe3O4)
Corundum (Al2O3
3. Carbonates
Tersusun dari ion inti ( CO3 )2 , yang berkombinasi atau bergabung dengan Ca, Mg, Fe, Cu, dan lain-lain. Terdapat kurang lebih 80 jenis mineral karbonat, tetapi yang paling umum adalah :
Calcite
Aragonite
Dolomite
4. Sulfides
Merupakan kombinasi atau gabungan satu atau lebih logam dengan sulfur ( S ). Contohnya adalah :
Galena (PbS)
Kalkopirit (CuFeO2)àPyrite (FeS2)
Sulfates
Penyusun utamanya adalah ion Sulfat ( SO4 ) yang berkombinasi atau bergabung dengan Ca, Ba, Mg, Fe, Cu, dan lain-lain. Contohnya adalah :
Gypsum (Ca SO4 2 H2O )
Anhydrite (Ca SO4)
Barite (Ba SO4 )
6. Posphates
Penyusun utamanya adalah ion Fosfat ( PO4 ) yang berkombinasi atau bergabung dengan Ca, Ba, Mg, Fe, Cu, dan lain-lain. Contohnya adalah :
Apatite (2(Ca5 PO4)3 F )
7. Native elements
Contoh mineralnya adalah :
Logam :
Gold (Au)
Silver (Ag)
Platinum (Pt)
Non-Logam :
Diamond (C)
Graphite (C)
Sulfur (S)
Pengertian Mineral
Sedangkan mineral adalah suatu zat ( fasa ) padat yang terdiri dari unsur atau persenyawaan kimia yang dibentuk secara alamiah oleh proses-proses anorganik, mempunyai sifat-sifat kimia dan fisika tertentu dan mempunyai penempatan atom-atom secara beraturan di dalamnya, atau dikenal sebagai struktur kristal.
Selain itu kata mineral juga mempunyai banyak arti, hal ini tergantung darimana kita meninjaunya. Mineral dalam arti farmasi lain dengan pengertian di bidang geologi. Istilah mineral dalam arti geologi adalah zat atau benda yang terbentuk oleh proses alam, biasanya bersifat padat serta tersusun dari komposisi kimia tertentu dan mempunyai sifat-sifat fisik yang tertentu pula. Mineral terbentuk dari atom-atom serta molekul-molekul dari berbagai unsur kimia, dimana atom-atom tersebut tersusun dalam suatu pola yang teratur. Keteraturan dari rangkaian atom ini akan menjadikan mineral mempunyai sifat dalam yang teratur. Mineral pada umumnya merupakan zat anorganik. ( Murwanto, Helmy, dkk. 1992 )
Maka pengertian yang jelas dari batas mineral oleh beberapa ahli geologi perlu diketahui walaupun dari kenyataannya tidak ada satupun persesuaian umum untuk definisinya.
Definisi mineral menurut beberapa ahli :
L.G. Berry dan B. Mason, 1959
Mineral adalah suatu benda padat homogen yang terdapat di alam terbentuk secara anorganik, mempunyai komposisi kimia pada batas – batas tertentu dan mempunyai atom – atom yang tersusun secara teratur.
D.G.A Whitten dan J.R.V. Brooks, 1972
Mineral adalah suatu bahan padat yang secara structural homogen mempunyai komposisi kimia tertentu, dibentuk oleh proses alam yang anorganik.
A.W.R. Potter dan H. Robinson, 1977
Mineral adalah suatu bahan atau zat yang homogen mempunyai komposisi kimia tertentu atau dalam batas – batas dan mempunyai sifat – sifat tetap, dibentuk dialam dan bukan hasil suatu kehidupan.
Sebagian besar mineral – mineral ini terdapat dalm keadaan padat, akan tetapi dapat juga berada dalam keadaan setengah padat, gas, ataupun cair. Mineral – mineral padat itu biasanya terdapat dalam bentuk – bentuk kristal, yang agak setangkup, dan yang pada banyak sisinya dibatasi oleh bidang – bidang datar. Bidang – bidang geometric ini memberi bangunan yang tersendiri sifatnya pada mineral yang bersangkutan. Minyak bumi misalnya adalah mineral dalam bentuk cair, sedangkan gas bumi adalah mineral dalam bentuk gas. Sebagian dari mineral dapat juga dilihat dalam bentuk amorf, artinya tidak mempunyai susunan dan bangunankristal sendiri. Pengenalan atau dterminasi mineral – mineral dapat didasarkan atas bebagai sifat dari mineral – mineral tersebut.
III.3 Jenis Mineral
Mineral ada yang merupakan unsur bebas dan ada yang merupakan bentuk persenyawaan.
1. Silicates
Menyusun 95 % bagian litosfer dan mantel bumi bagian atas. Komposisi utamanya adalah Silicon ( Si ) dan Oksigen ( O ).
Framework silicates, yang paling berlimpah di alam adalah :
Quartz
Feldspars:
Orthoclase, Kaya akan Kalium ( K )
Plagioclase, Kaya akan Kalsium ( Ca ) dan Natrium ( Na )
Sheet silicates
Micas
Muscovite, kaya akan Alumunium ( Al ) dan berwarna cerah
Biotite, kaya akan Besi ( Fe ) dan berwarna gelap
Chain silicates
Pyroxenes, berantai tunggal
Amphiboles, berantai ganda
Single tetrahedron
Olivine
Oxides
Tersusun dari Oksigen ( O ) dan logam atau ion-ion lain.
Hematite (Fe2O3)
Magnetite (Fe3O4)
Corundum (Al2O3
3. Carbonates
Tersusun dari ion inti ( CO3 )2 , yang berkombinasi atau bergabung dengan Ca, Mg, Fe, Cu, dan lain-lain. Terdapat kurang lebih 80 jenis mineral karbonat, tetapi yang paling umum adalah :
Calcite
Aragonite
Dolomite
4. Sulfides
Merupakan kombinasi atau gabungan satu atau lebih logam dengan sulfur ( S ). Contohnya adalah :
Galena (PbS)
Kalkopirit (CuFeO2)àPyrite (FeS2)
Sulfates
Penyusun utamanya adalah ion Sulfat ( SO4 ) yang berkombinasi atau bergabung dengan Ca, Ba, Mg, Fe, Cu, dan lain-lain. Contohnya adalah :
Gypsum (Ca SO4 2 H2O )
Anhydrite (Ca SO4)
Barite (Ba SO4 )
6. Posphates
Penyusun utamanya adalah ion Fosfat ( PO4 ) yang berkombinasi atau bergabung dengan Ca, Ba, Mg, Fe, Cu, dan lain-lain. Contohnya adalah :
Apatite (2(Ca5 PO4)3 F )
7. Native elements
Contoh mineralnya adalah :
Logam :
Gold (Au)
Silver (Ag)
Platinum (Pt)
Non-Logam :
Diamond (C)
Graphite (C)
Sulfur (S)
2.1.2. Sifat
Fisik Dan Kimia Mineral
Sifat Fisik Mineral
1. Kilap ( Lustre )
Gejala ini terjadi apabila pada mineral dijatuhkan cahaya refleksi dan kilap suatu mineral sangat penting untuk diketahui. Beberapa kilap yang sering digunakan adalah sebagai berikut :
Kilap Logam ( Metallic Lustre ), kilap yang dihasilkan dari mineral-mineral logam, seperti Galena, Grafit, Hematit, Kalkopirit, Magnetit, Pirit.
Kilap Sub Logam ( Sub Metallic Lustre ), kilap yang dihasilkan dari mineral hasil alterasi mineral sebelumnya, seperti Ilmenit ( FeO. TiO2)
Kilap Non Logam (Non Metallic Lustre),
~ Kilap Intan (Adamantin Lustre), kilap sangat cemerlang seperti pada intan permata, seperti Intan.
~ Kilap Kaca (Vitreous Lustre), kilap seperti pada pecahan kaca, seperti Kalsit, Kwarsa.
~ Kilap Sutera (Silky Lustre), kilap seperti sutera, biasanya terlihat pada mineral-mineral yang menyerat, seperti Aktinolit, Asbes, Gipsum
~ Kilap Damar (Resinous Lustre), kilap seperti damar, seperti Sphalerit, Monasit
~ Kilap Mutiara (Pearly Lustre), kilap seperti mutiara, biasanya terlihat pada bidang-bidang belah dasar mineral, seperti Nefelin, Opal, Serpentin, Brukit.
~ Kilap Tanah (Limonit Lustre) atau kilap guram ( Dull ), biasanya terlihat pada mineral-mineral yang kempal, seperti Bauxit, Kaolin, Limonit
~ Kilap Lemak ( Greasy Lustre ), kilap seperti lemak, seakan-akan terlapis oleh lemak, seperti Nefelin.
2 . Warna ( Colour )
Mineral seperti Magnetite dan Galena mempunyai warna tetap, tetapi ada beberapa mineral akan mempunyai warna yang bervariasi. Warna-warna dari mineral antara lain :
Putih : Kaolin ( Al2O3.2SiO2.2H2O ), Gypsum ( CaSO4.H2O ), Milky Kwartz (Kwarsa Susu) ( SiO2 )
Kuning : Belerang ( S )
Emas : Pirit ( FeS2 ), Kalkopirit ( CuFeS2 ), Ema ( Au )
Hijau : Klorit ((Mg.Fe)5 Al(AlSiO3O10) (OH)), Malasit ( Cu CO3Cu(OH)2 )
Biru : Azurit ( 2CuCO3 .Cu (OH)2), Beril ( Be3 Al2 (Si6O18))
Merah : Jasper, Hematit ( Fe2O3 )
Coklat : Garnet, Limonite ( Fe2O3)
Abu-abu : Galena ( PbS )
Hitam : Biotit ( K2 (MgFe)2 (OH)2 (AlSi3O10)), Grafit ( C ), Augit
3. Kekerasan (Hardness)
Kekerasan merupakan ketahanan mineral terhadap suatu goresan. Kekerasan relatif dari suatu mineral tertentu dengan suatu urutan mineral yang dipakai sebagai standart kekerasan. Mineral yang mempunyai kekerasan lebih kecil akan mempunyai bekas goresan pada tubuh mineral tersebut. Untuk standart kekerasan biasa yang dipakai adalah skala kekerasan dari “MOHS” yang mempunyai 10 pembagian skala, dimulai dari skala untuk mineral yang terlunak dan skala 10 untuk mineral yang terkeras.
Skala kekerasan Mineral “MOHS”
Skala Kekerasan Mineral Rumus Kimia
1 Talc H2Mg3 (SiO3)4
2 Gypsum CaSO4. 2H2O
3 Calcite CaCO3
4 Fluorite CaF2
5 Apatite CaF2Ca3 (PO4)2
6 Orthoklase K Al Si3 O8
7 Quartz SiO2
8 Topaz Al2SiO3O8
9 Corundum Al2O3
10 Diamond C
Sebagai perbandingan dari skala tersebut diatas, maka dibawah ini akan disajikan beberapa alat penguji standart kekerasan, yaitu :
Kuku jari tangan 2,5
Kawat tembaga 3
Pecahan kaca 5,5 - 6
Kikir Baja/ jarum baja 6,6 – 7
4. Cerat (Streak)
Cerat merupakan warna mineral dalam bentuk hancuran/ serbuk. Hal ini dapat diperoleh bila mineral digoreskan pada keping porselin kasar, atau dengan membubuk mineral, kemudian warna bubuk itu dilihat.
Cerat tersebut sama dengan warna mineralnya, tetapi dapat juga berbeda dengan dengan warna mineralnya. Warna cerat untuk mineral tertentu umumnya tetap walaupun warna mineralnya berubah-ubah. Contohnya :
Pirit : berwarna keemasan namun jika digoreskan pada plat porselin akan meninggalkan jejak berwarna hitam.
Hematite : berwarna merah namun bila digoreskan pada plat porselin akan meninggalkan jejak berwarna merah kecoklatan.
Augite : Ceratnya abu-abu kehijauan
Biotite : Ceratnya tidak berwarna
Orthoklase : Ceratnya putih
5. Belahan (Cleavage )
Belahan merupakan kecendrungan mineral untuk membelah diri pada suatu arah atau lebih yang dikontrol oleh struktur atom.
Belahan mineral akan selalu sejajar dengan bidang permukaan kristal yang rata, karena belahan merupakan gambaran dari struktur dalam dari kristal.
Belahan tersebut akan menghasilkan kristal menjadi bagian-bagian kristal yang kecil, yang setiap bagian kristal dibatasi oleh bidang yang rata.
Berdasarkan dari bagus atau tidaknya permukaan bidang belahannya, belahan dapat dibagi menjadi :
Sempurna ( Perfect )
Yaitu apabila mineral mudah terbelah melalui arah belahannya yang merupakan bidang yang rata dan sukar pecah selain melalui bidang belahannya.
Contoh : Calcite
Muscovite
Galena
Halite
Baik ( Good )
Yaitu apabila mineral mudah terbelah melalui bidang belahannya yang rata, tetapi dapat juga terbelah.
Contoh : Apatite
Cassiterite
Native Sulphur
Jelas (Distinct)
Tidak Jelas (Indistinct)
Berdasarkan banyaknya belahan pada mineral, belahan dapat dibagi menjadi :
Belahan 1 arah, contohnya : Muskovit
Belahan 2 arah ( 60O/120O ), contohnya : Feldspar
Belahan 3 arah ( 90O ), contohnya : Halit, Galena
Belahan 3 arah ( 60O/90O ), contohnya : Kalsit
Belahan 4 arah, contohnya : Fluorit.
Gejala ini terjadi apabila pada mineral dijatuhkan cahaya refleksi dan kilap suatu mineral sangat penting untuk diketahui. Beberapa kilap yang sering digunakan adalah sebagai berikut :
Kilap Logam ( Metallic Lustre ), kilap yang dihasilkan dari mineral-mineral logam, seperti Galena, Grafit, Hematit, Kalkopirit, Magnetit, Pirit.
Kilap Sub Logam ( Sub Metallic Lustre ), kilap yang dihasilkan dari mineral hasil alterasi mineral sebelumnya, seperti Ilmenit ( FeO. TiO2)
Kilap Non Logam (Non Metallic Lustre),
~ Kilap Intan (Adamantin Lustre), kilap sangat cemerlang seperti pada intan permata, seperti Intan.
~ Kilap Kaca (Vitreous Lustre), kilap seperti pada pecahan kaca, seperti Kalsit, Kwarsa.
~ Kilap Sutera (Silky Lustre), kilap seperti sutera, biasanya terlihat pada mineral-mineral yang menyerat, seperti Aktinolit, Asbes, Gipsum
~ Kilap Damar (Resinous Lustre), kilap seperti damar, seperti Sphalerit, Monasit
~ Kilap Mutiara (Pearly Lustre), kilap seperti mutiara, biasanya terlihat pada bidang-bidang belah dasar mineral, seperti Nefelin, Opal, Serpentin, Brukit.
~ Kilap Tanah (Limonit Lustre) atau kilap guram ( Dull ), biasanya terlihat pada mineral-mineral yang kempal, seperti Bauxit, Kaolin, Limonit
~ Kilap Lemak ( Greasy Lustre ), kilap seperti lemak, seakan-akan terlapis oleh lemak, seperti Nefelin.
2 . Warna ( Colour )
Mineral seperti Magnetite dan Galena mempunyai warna tetap, tetapi ada beberapa mineral akan mempunyai warna yang bervariasi. Warna-warna dari mineral antara lain :
Putih : Kaolin ( Al2O3.2SiO2.2H2O ), Gypsum ( CaSO4.H2O ), Milky Kwartz (Kwarsa Susu) ( SiO2 )
Kuning : Belerang ( S )
Emas : Pirit ( FeS2 ), Kalkopirit ( CuFeS2 ), Ema ( Au )
Hijau : Klorit ((Mg.Fe)5 Al(AlSiO3O10) (OH)), Malasit ( Cu CO3Cu(OH)2 )
Biru : Azurit ( 2CuCO3 .Cu (OH)2), Beril ( Be3 Al2 (Si6O18))
Merah : Jasper, Hematit ( Fe2O3 )
Coklat : Garnet, Limonite ( Fe2O3)
Abu-abu : Galena ( PbS )
Hitam : Biotit ( K2 (MgFe)2 (OH)2 (AlSi3O10)), Grafit ( C ), Augit
3. Kekerasan (Hardness)
Kekerasan merupakan ketahanan mineral terhadap suatu goresan. Kekerasan relatif dari suatu mineral tertentu dengan suatu urutan mineral yang dipakai sebagai standart kekerasan. Mineral yang mempunyai kekerasan lebih kecil akan mempunyai bekas goresan pada tubuh mineral tersebut. Untuk standart kekerasan biasa yang dipakai adalah skala kekerasan dari “MOHS” yang mempunyai 10 pembagian skala, dimulai dari skala untuk mineral yang terlunak dan skala 10 untuk mineral yang terkeras.
Skala kekerasan Mineral “MOHS”
Skala Kekerasan Mineral Rumus Kimia
1 Talc H2Mg3 (SiO3)4
2 Gypsum CaSO4. 2H2O
3 Calcite CaCO3
4 Fluorite CaF2
5 Apatite CaF2Ca3 (PO4)2
6 Orthoklase K Al Si3 O8
7 Quartz SiO2
8 Topaz Al2SiO3O8
9 Corundum Al2O3
10 Diamond C
Sebagai perbandingan dari skala tersebut diatas, maka dibawah ini akan disajikan beberapa alat penguji standart kekerasan, yaitu :
Kuku jari tangan 2,5
Kawat tembaga 3
Pecahan kaca 5,5 - 6
Kikir Baja/ jarum baja 6,6 – 7
4. Cerat (Streak)
Cerat merupakan warna mineral dalam bentuk hancuran/ serbuk. Hal ini dapat diperoleh bila mineral digoreskan pada keping porselin kasar, atau dengan membubuk mineral, kemudian warna bubuk itu dilihat.
Cerat tersebut sama dengan warna mineralnya, tetapi dapat juga berbeda dengan dengan warna mineralnya. Warna cerat untuk mineral tertentu umumnya tetap walaupun warna mineralnya berubah-ubah. Contohnya :
Pirit : berwarna keemasan namun jika digoreskan pada plat porselin akan meninggalkan jejak berwarna hitam.
Hematite : berwarna merah namun bila digoreskan pada plat porselin akan meninggalkan jejak berwarna merah kecoklatan.
Augite : Ceratnya abu-abu kehijauan
Biotite : Ceratnya tidak berwarna
Orthoklase : Ceratnya putih
5. Belahan (Cleavage )
Belahan merupakan kecendrungan mineral untuk membelah diri pada suatu arah atau lebih yang dikontrol oleh struktur atom.
Belahan mineral akan selalu sejajar dengan bidang permukaan kristal yang rata, karena belahan merupakan gambaran dari struktur dalam dari kristal.
Belahan tersebut akan menghasilkan kristal menjadi bagian-bagian kristal yang kecil, yang setiap bagian kristal dibatasi oleh bidang yang rata.
Berdasarkan dari bagus atau tidaknya permukaan bidang belahannya, belahan dapat dibagi menjadi :
Sempurna ( Perfect )
Yaitu apabila mineral mudah terbelah melalui arah belahannya yang merupakan bidang yang rata dan sukar pecah selain melalui bidang belahannya.
Contoh : Calcite
Muscovite
Galena
Halite
Baik ( Good )
Yaitu apabila mineral mudah terbelah melalui bidang belahannya yang rata, tetapi dapat juga terbelah.
Contoh : Apatite
Cassiterite
Native Sulphur
Jelas (Distinct)
Tidak Jelas (Indistinct)
Berdasarkan banyaknya belahan pada mineral, belahan dapat dibagi menjadi :
Belahan 1 arah, contohnya : Muskovit
Belahan 2 arah ( 60O/120O ), contohnya : Feldspar
Belahan 3 arah ( 90O ), contohnya : Halit, Galena
Belahan 3 arah ( 60O/90O ), contohnya : Kalsit
Belahan 4 arah, contohnya : Fluorit.
6 . Pecahan (Fracture)
Merupakan kecendrungan mineral untuk terpisah dalam arah yang tidak teratur. Tidak dikontrol kuat oleh struktur atom. Apabila suatu mineral mendapatkan tekanan yang melampaui batas plastisitas dan elastisitasnya, maka mineral tersebut akan pecah.
Pecahan dapat dibagi menjadi :
Choncoidal : Pecahan yang memperlihatkan gelombang yang melengkung dipermukaannya, seperti kenampakan pada botol pecah. Contohnya : Quartz ( Kwarsa )
Hackly : Pecahan dimana permukaannya tidak teratur dengan ujung-ujung yang runcing. Contohnya : Native Metals ( Cu, Ag )
Even : Pecahan mineral dengan permukaan bidang pecah kecil-kecil dengan ujung pecahan masih mendekati bidang datar. Contohnya : Limonit, Muscovite, Talc, Biotite, Mineral Lempung.
Uneven : pecahan yang kasar dengan permukaan yang tidak teratur dengan ujung-ujung yang runcing. Contohnya : Garnet, Hematite, Kalkopirit, Magnetit.
Splintery : pecahan mineral yang hancur menjadi kecil-kecil dan tajam menyerupai benang atau berserabut. Contohnya : Augit, Hipersten, Anhydrite, Serpentine.
Earthy : pecahan mineral yang hancur seperti tanah. Contohnya : Kaoline,
7. Bentuk ( Form )
Apabila dalam pertumbuhannya tidak mengalami gangguan apapun, maka mineral akan mempunyai bentuk kristal yang sempurna. Tetapi bentuk sempurna ini jarang didapatkan karena di alam gangguan-gangguan tersebut selalu ada. Mineral yang dijumpai di alam srering bentuknya tidak berkembang sebagaimana mestinya, sehingga sulit untuk mengelompokan mineral kedalam sistem kristalografi.
Sebagai gantinya dipakai istilah perawakan kristal ( crystal habit ), bentuk khas mineral ditentukan oleh bidang yang membangunnya, termasuk bentuk dan ukuran relatif bidang-bidang tersebut.
Perawakan kristal dibedakan menjadi 3 golongan, yaitu :
Perawakan memanjang ( Elongated Habits )
Meniang ( Columnar )
Bentuk kristal prismatik yang menyerupai bentuk tiang. Contohnya : Tourmaline, Pyrolusite, Wollastonite.
Menyerat ( Fibrous )
Bentuk kristal yang menyerupai serat-serat kecil. Contohnya : Asbestos, Gypsum, Silimanite, Tremolite, Pyrophillite.
Menjarum ( Acicular )
Bentuk kristal yang menyerupai jarum-jarum kecil. Contohnya : Natrolite, Glaucophane.
Menjaring ( Reticulate )
Bentuk kristal yang kecil panjang yang tersusun menyerupai jaring. Contohnya : Rutile, Cerussite.
Membenang ( Filliform )
Bentuk kristal kecil-kecil yang menyerupai benang. Contohnya : Silver
Merabut ( Cappilery )
Bentuk kristal yang kecil-kecil menyerupai rambut. Contohnya : Cuprite, Bysolite.
Mondok ( Stout, Stubby, Equant )
Bentuk kristal pendek, gemuk sering terdapat pada kristal-kristal dengan sumbu c lebih pendek dari sumbu lainnya. Contohnya : Zircon.
Membintang ( Stellated )
Bentuk kristal yang tersusun menyerupai bintang. Contohnya : Pirofilit.
Menjari ( Radiated )
Bentuk-bentuk kristal yang tersusun menyerupai bentuk jari-jari. Contohnya : Markasit, Natrolit.
Perawakan Mendatar ( Flattened Habit )
Membilah ( Bladed )
Bentuk kristal yang panjang dan tipis menyerupai bilah kayu, dengan perbandingan antara lebar dengan tebal sangat jauh. Contohnya : Kyanite, Glaucophane, Kalaverit.
Memapan ( Tabular )
Bentuk kristal pipih menyerupai bentuk papan, dimana lebar dengan tebal tidak terlalu jauh. Contohnya : Barite, Hematite, Hypersthene.
Membata ( Blocky )
Bentuk kristal tebal menyerupai bentuk bata, dengan perbandingan antara tebal dan lebar hampir sama. Contohnya : Microline.
Mendaun ( Foliated )
Bentuk kristal pipih dengan melapis ( lamellar ) perlapisan yang nudah dikupas/dipisahkan. Contohnya : Mica, Talk, Chlorite.
Memencar ( Divergent )
Bentuk kristal yang tersusun menyerupai bentuki kipas terbuka. Contohnya : Gypsum, Millerite.
Membulu ( Plumose )
Bentuk kristal yang tersusun membentuk tumpukan bulu. Contohnya : Mica
Perawakan Berkelompok ( Rounded Habits )
Mendada ( Mamillary)
Bentuk kristal bulat-bulat menyerupai buah dada ( breast like ). Contohnya : Malachite, Opal, Hemimorphite.
Membulat ( Colloform )
Bentuk kristal yang menunjukan permukaan yang bulat-bulat. Contohnya : Glauconite, Cobaltite, Bismuth, Geothite, Franklinite, Smallite.
Membulat jari ( Colloform Radial )
Bentuk kristal yang membulat dengan struktur dalam memencar menyerupai bentuk jari. Contohnya : Pyrolorphyte.
Membutir ( Granular )
Kelompok kristal kecil yang berbentuk butiran. Contohnya : Olivine, Anhydrite, Chromite, Sodalite, Alunite.
Memisolit ( Pisolitin )
Kelompok kristal lonjong sebesar krikil, seperti kacang tanah. Contohnya : Gibbsite, Pisolitic Limestone.
Stalaktit ( Stalactitic )
Bentuk kristal yang membulat dengan litologi gamping. Contohnya : Geothite.
Mengginjal ( Reniform )
Bentuk kristal yang menyerupai bentuk ginjal. Contohnya : Hematite.
8. Berat Jenis (Specific Gravity)
Berat jenis adalah angka perbandingan antara berat suatu mineral dibandingkan dengan berat air pada volume yang sama.
Cara yang umum untuk menentukan berat jenis yaitu dengan menimbang mineral tersebut terlebih dahulu, misalnya beratnya x gram. Kemudian mineral ditimbang lagi dalam keadaan di dalam air, misalnya beratnya y gram. Berat terhitung dalam keadaan di dalam air adalah berat miberal dikurangi dengan berat air yang volumenya sama dengan volume butir mineral tersebut. Rumus perhitungan berat jenis:
Berat Jenis = (Berat di Luar Air)/(Berat di Luar Air-Berat Dalam Air
Merupakan kecendrungan mineral untuk terpisah dalam arah yang tidak teratur. Tidak dikontrol kuat oleh struktur atom. Apabila suatu mineral mendapatkan tekanan yang melampaui batas plastisitas dan elastisitasnya, maka mineral tersebut akan pecah.
Pecahan dapat dibagi menjadi :
Choncoidal : Pecahan yang memperlihatkan gelombang yang melengkung dipermukaannya, seperti kenampakan pada botol pecah. Contohnya : Quartz ( Kwarsa )
Hackly : Pecahan dimana permukaannya tidak teratur dengan ujung-ujung yang runcing. Contohnya : Native Metals ( Cu, Ag )
Even : Pecahan mineral dengan permukaan bidang pecah kecil-kecil dengan ujung pecahan masih mendekati bidang datar. Contohnya : Limonit, Muscovite, Talc, Biotite, Mineral Lempung.
Uneven : pecahan yang kasar dengan permukaan yang tidak teratur dengan ujung-ujung yang runcing. Contohnya : Garnet, Hematite, Kalkopirit, Magnetit.
Splintery : pecahan mineral yang hancur menjadi kecil-kecil dan tajam menyerupai benang atau berserabut. Contohnya : Augit, Hipersten, Anhydrite, Serpentine.
Earthy : pecahan mineral yang hancur seperti tanah. Contohnya : Kaoline,
7. Bentuk ( Form )
Apabila dalam pertumbuhannya tidak mengalami gangguan apapun, maka mineral akan mempunyai bentuk kristal yang sempurna. Tetapi bentuk sempurna ini jarang didapatkan karena di alam gangguan-gangguan tersebut selalu ada. Mineral yang dijumpai di alam srering bentuknya tidak berkembang sebagaimana mestinya, sehingga sulit untuk mengelompokan mineral kedalam sistem kristalografi.
Sebagai gantinya dipakai istilah perawakan kristal ( crystal habit ), bentuk khas mineral ditentukan oleh bidang yang membangunnya, termasuk bentuk dan ukuran relatif bidang-bidang tersebut.
Perawakan kristal dibedakan menjadi 3 golongan, yaitu :
Perawakan memanjang ( Elongated Habits )
Meniang ( Columnar )
Bentuk kristal prismatik yang menyerupai bentuk tiang. Contohnya : Tourmaline, Pyrolusite, Wollastonite.
Menyerat ( Fibrous )
Bentuk kristal yang menyerupai serat-serat kecil. Contohnya : Asbestos, Gypsum, Silimanite, Tremolite, Pyrophillite.
Menjarum ( Acicular )
Bentuk kristal yang menyerupai jarum-jarum kecil. Contohnya : Natrolite, Glaucophane.
Menjaring ( Reticulate )
Bentuk kristal yang kecil panjang yang tersusun menyerupai jaring. Contohnya : Rutile, Cerussite.
Membenang ( Filliform )
Bentuk kristal kecil-kecil yang menyerupai benang. Contohnya : Silver
Merabut ( Cappilery )
Bentuk kristal yang kecil-kecil menyerupai rambut. Contohnya : Cuprite, Bysolite.
Mondok ( Stout, Stubby, Equant )
Bentuk kristal pendek, gemuk sering terdapat pada kristal-kristal dengan sumbu c lebih pendek dari sumbu lainnya. Contohnya : Zircon.
Membintang ( Stellated )
Bentuk kristal yang tersusun menyerupai bintang. Contohnya : Pirofilit.
Menjari ( Radiated )
Bentuk-bentuk kristal yang tersusun menyerupai bentuk jari-jari. Contohnya : Markasit, Natrolit.
Perawakan Mendatar ( Flattened Habit )
Membilah ( Bladed )
Bentuk kristal yang panjang dan tipis menyerupai bilah kayu, dengan perbandingan antara lebar dengan tebal sangat jauh. Contohnya : Kyanite, Glaucophane, Kalaverit.
Memapan ( Tabular )
Bentuk kristal pipih menyerupai bentuk papan, dimana lebar dengan tebal tidak terlalu jauh. Contohnya : Barite, Hematite, Hypersthene.
Membata ( Blocky )
Bentuk kristal tebal menyerupai bentuk bata, dengan perbandingan antara tebal dan lebar hampir sama. Contohnya : Microline.
Mendaun ( Foliated )
Bentuk kristal pipih dengan melapis ( lamellar ) perlapisan yang nudah dikupas/dipisahkan. Contohnya : Mica, Talk, Chlorite.
Memencar ( Divergent )
Bentuk kristal yang tersusun menyerupai bentuki kipas terbuka. Contohnya : Gypsum, Millerite.
Membulu ( Plumose )
Bentuk kristal yang tersusun membentuk tumpukan bulu. Contohnya : Mica
Perawakan Berkelompok ( Rounded Habits )
Mendada ( Mamillary)
Bentuk kristal bulat-bulat menyerupai buah dada ( breast like ). Contohnya : Malachite, Opal, Hemimorphite.
Membulat ( Colloform )
Bentuk kristal yang menunjukan permukaan yang bulat-bulat. Contohnya : Glauconite, Cobaltite, Bismuth, Geothite, Franklinite, Smallite.
Membulat jari ( Colloform Radial )
Bentuk kristal yang membulat dengan struktur dalam memencar menyerupai bentuk jari. Contohnya : Pyrolorphyte.
Membutir ( Granular )
Kelompok kristal kecil yang berbentuk butiran. Contohnya : Olivine, Anhydrite, Chromite, Sodalite, Alunite.
Memisolit ( Pisolitin )
Kelompok kristal lonjong sebesar krikil, seperti kacang tanah. Contohnya : Gibbsite, Pisolitic Limestone.
Stalaktit ( Stalactitic )
Bentuk kristal yang membulat dengan litologi gamping. Contohnya : Geothite.
Mengginjal ( Reniform )
Bentuk kristal yang menyerupai bentuk ginjal. Contohnya : Hematite.
8. Berat Jenis (Specific Gravity)
Berat jenis adalah angka perbandingan antara berat suatu mineral dibandingkan dengan berat air pada volume yang sama.
Cara yang umum untuk menentukan berat jenis yaitu dengan menimbang mineral tersebut terlebih dahulu, misalnya beratnya x gram. Kemudian mineral ditimbang lagi dalam keadaan di dalam air, misalnya beratnya y gram. Berat terhitung dalam keadaan di dalam air adalah berat miberal dikurangi dengan berat air yang volumenya sama dengan volume butir mineral tersebut. Rumus perhitungan berat jenis:
Berat Jenis = (Berat di Luar Air)/(Berat di Luar Air-Berat Dalam Air
2.1.3. R.B.S
DAN SKALA MHOS
Pembagian
Batuan Beku Pada Reaksi Bowen Series (R.B.S)
Batuan
beku adalah batuan yang terbentuk dari pembekuan magma. Proses pembekuan akan
menghasilkan Kristal atau gelas tergantung waktu pembekuan. kecepatan pembekuan
magma mengakibatkan ukuran kristal yang berbeda-beda. bila pembekuan lambat
maka mengakibatkan kristal yang berukuran besar/kasar. semakin cepat pembekuan
maka akan mengakibatkan ukuran kristalnya semakin kecil dan bila pembekuannya
sangat cepat makan tidak akan terbentuk kristal tetapi gelas.
Proses pembentukan mineral dapat digambarkan
dalam diagram seri bowen.
Diagram seri reaksi bowen:
seri bowen menunjukkan bahwa mineral yang
berada di bagian atas terbentuk pada suhu paling tinggi dan bersifat basa.
Semakin ke bawah, suhu pembentukannya semakin rendah dan bersifat semakin asam.
PEMBAGIAN BATUAN
BEKU
Berdasar genesanya
batuan beku dibedakan menjadi batuan beku
intrusif (membeku di bawah permukaan bumi) dan batuan beku ekstrusif (membeku
di permukaan bumi). Selain itu batuan beku juga dapat di bagi manjadi 3
kelompok, yaitu:
a.Batuan beku vulkanik, yang merupakan hasil
proses vulkanisme
b.Batuan beku plutonik, yang terbentuk jauh
di dalam bumi
c.Hipabisal, yang merupakan produk
intrusi minor.
Berdasarkan
komposisi kimia
Penggolongan berdasarkan komposisi kimia yang
paling sering digunakan adalah berdasarkan kandungan silikanya
Contoh Batuan Beku
Berdasar genesa
Batuan beku ekstrusif / vulkanik : Granit, Diorit, Gabro
Batuan beku intrusif / plutonik : Riolit, andesit, basalt
Berdasarkan Komposisi kimia
Batuan beku asam : Granit, riolit
Batuan beku intermediet : Diorit, Andesit
Batuan beku basa : gabro, basalt
batuan beku ultra basa : Dunit, Peridotit, Komatit
Skala Mhos
Skala kekerasan Mineral
“MOHS”
Skala Kekerasan Mineral Rumus Kimia
1 .Talc / Talk H2Mg3 (SiO3)4
2 .Gypsum / GipsumCaSO4. 2H2O
3 .Calcite / Kalsit CaCO3
4 .Fluorite / Florit CaF2
5 .Apatite / Apatit CaF2Ca3 (PO4)2
6 .Orthoklase / Ortoklas K Al Si3 O8
7 .Quartz / Kuarsa SiO2
8 .Topaz Al2SiO3O8
9. Corundum / kurundumAl2O3
10. Diamond / Intan C
Sebagai perbandingan dari skala tersebut diatas, maka dibawah ini akan disajikan beberapa alat penguji standart kekerasan, yaitu :
Kuku jari tangan 2,5
Kawat tembaga 3
Pecahan kaca 5,5 - 6
Kikir Baja/ jarum baja
Skala Kekerasan Mineral Rumus Kimia
1 .Talc / Talk H2Mg3 (SiO3)4
2 .Gypsum / GipsumCaSO4. 2H2O
3 .Calcite / Kalsit CaCO3
4 .Fluorite / Florit CaF2
5 .Apatite / Apatit CaF2Ca3 (PO4)2
6 .Orthoklase / Ortoklas K Al Si3 O8
7 .Quartz / Kuarsa SiO2
8 .Topaz Al2SiO3O8
9. Corundum / kurundumAl2O3
10. Diamond / Intan C
Sebagai perbandingan dari skala tersebut diatas, maka dibawah ini akan disajikan beberapa alat penguji standart kekerasan, yaitu :
Kuku jari tangan 2,5
Kawat tembaga 3
Pecahan kaca 5,5 - 6
Kikir Baja/ jarum baja
BAB IV
PENUTUP
4.1.
KESIMPULAN
·
Mineral (menurut Barry and Masson)
adalah suatu benda padat homogen yang terdapat di alam, terbentuk secara
anorganik, dengan komposisi kimia pada batas batas tertentu dan mempunyai
atom-atom yang tersusun secara teratur.
·
Mineralogi merupakan ilmu
bumi yang berfokus pada
sifat kimia,
struktur kristal, dan fisika
(termasuk optik)
dari mineral. Studi ini juga
mencakup proses pembentukan dan
perubahan mineral
·
Skala kekerasan Mineral “MOHS”
Skala Kekerasan Mineral Rumus Kimia
1 .Talc / Talk H2Mg3 (SiO3)4
2 .Gypsum / GipsumCaSO4. 2H2O
3 .Calcite / Kalsit CaCO3
4 .Fluorite / Florit CaF2
5 .Apatite / Apatit CaF2Ca3 (PO4)2
6 .Orthoklase / Ortoklas K Al Si3 O8
7 .Quartz / Kuarsa SiO2
8 .Topaz Al2SiO3O8
9. Corundum / kurundumAl2O3
10. Diamond / Intan C
Skala Kekerasan Mineral Rumus Kimia
1 .Talc / Talk H2Mg3 (SiO3)4
2 .Gypsum / GipsumCaSO4. 2H2O
3 .Calcite / Kalsit CaCO3
4 .Fluorite / Florit CaF2
5 .Apatite / Apatit CaF2Ca3 (PO4)2
6 .Orthoklase / Ortoklas K Al Si3 O8
7 .Quartz / Kuarsa SiO2
8 .Topaz Al2SiO3O8
9. Corundum / kurundumAl2O3
10. Diamond / Intan C
4.2. SARAN
·
Untuk Lab.kristalografi dan mineralogi dalam percobaan “Mineralogi”
Kalau bisa Mineral yang dideterminasi
agar di perbesar sedikit lagi
Agar
saat kita mendeterminasi nya bisa sedikit gampang .
·
Dan untuk Mangnet yang digunakan untuk
mengetest mineral yang mengandum logam , menurut saya magnet itu sebaiknya
tidak dipinjamkan ke praktikan , usahakan asisten yang pegang dan setelah
menunjukkan nya , langsung di kembalikan , agar tidak hilang . Terima Kasih
0 komentar:
Post a Comment